Teknologi Pintar Baterai Litium

Teknologi Pintar Baterai Litium – Hampir semua perangkat elektronik portabel menggunakan baterai sebagai sumber tenaga utamanya, misalnya ponsel, laptop hingga mobil listrik.

Keberadaan baterai bagi kehidupan sehari-hari sangat vital. Jenis baterai yang beredar dipasaran sangat beragam.

Kategori maupun jenisnya dibedakan oleh material penyusunnya dan kegunaanya. Contohnya baterai alkain, baterai nikel, baterai kering , baterai litium-ion dan lainnya. Dari sederat jenis – jenis baterai, baterai litium-ion adalah betrai yang paling umum digunakan.

Baterai litium-ion termasuk jenis baterai yang menggunakan listrik sebagai sumber daya isi ulang.

Baterai isi ulang tak hanya baterai litium-ion, akan tetapi baterai jenis litium-ion memiliki kelebihan dibanding baterai isi ulang jenis lainnya. Selain ukuran yang ramping, kemampuan baterai litium dapat menyimpan daya listrik berjam-jam hingga bahkan berhari-hari.

Alasan tersebut yang membuat para produsen elektronik portabel menggunakan jenis baterai litium-ion dibanding baterai jenis lain. Perangkat pertama yang menggunakan baterai litium-ion adalah HandyCam Sony pada tahun 1991, yang kemudian Teknologi Pintar Baterai Litium dipakai oleh para produsen lainnya.

Bagian-Bagian dari Baterai Litium

Teknologi Pintar Baterai Litium
Teknologi Pintar Baterai Litium

Baterai litium-ion tersusun dari katoda, anoda dan litium. Katoda dan anoda dipisahkan oleh cariran elektrolit dan separator, separator adalah bahan pemisah dengan tekstur berpori.

Ion litium mengalir antara katoda dan anoda melalui separator dalam cairan elektrolit dalam baterai. Dilansir dari sumber Wired.com, sejalan dengan perkembangan pesat teknologi bentuk dan fisik dari baterai litium terus mengalami perkembangan.

Baterai yang ramping dan fleksibel dengan kapasitas penyimpanan daya yang besar namun harga yang terjangkau menjadi tujuan atau Goals dari para produsen yang ingin menggunakan baterai litium-ion.

Sebuah artikel jurnal berjudul Upgrading traditional liquid electrolyte via in situ gelation for future lithium metal batteries pada tahun 2018 yang diterbitkan Science Advance, Feng-Quan Liu beserta timnya membuat terobosan mengubah mekanisme cairan baterai litium-ion menjadi padat atau semi padat dengan menggunakan bahan senyama kimia litium Heksafluorofosfat (LiPF6).

Bahan tersebut berbentuk gel yang diketahui lebih stabil daripada cairan konvensional pada baterai litium-ion. Menurut para peneliti, masalah yang paling lumrah adalah tumbuhnya dendrit  yang tidak hanya menguras daya lebih cepat namun juga bisa menyebabkan kebakaran.

Dendrit

 “Teknologi Pintar Baterai Litium” terkunci Teknologi Pintar Baterai Litium

Dendrit merupakan semacam untaian paku litium yang tumbuh di anoda baterai. Ketika pengisian ulang dilakukan, ion litium bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya dalam baterai.

Setelah diisi berulang kali, pertumbuhan dendrit semakin signifikan yang berdampak mempersingkat masa pakai baterai. Dengan menggunakan senyawa LiPF6 maka pertumbuhan dendrit dapat dikurangi, memperpanjang masa pakai, menghemat daya baterai dan mencegah ledakan yang dapat menimbulkan kebakaran.

Perusahaaan bernama Amionx meluncurkan produk baterai SafeCore, bahkan mereka mengklaim bahwa baterai litium-ion yang mereka produksi tidak akan terbakar bahakan ketika dihancurkan dan di tembak.

Namun SafeCore hanya diproduksi untuk kebutuhan militer Amerika Serikat. Tampaknya, berbagai terobosan dari para ilmuwan dan pengembangan pada baterai litium-ion yang lebih baik dan aman perlu untuk dipublikasikan secara komersial sehingga menjadi standar mutu produksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =